A Little Introduction

 

Ini dimulai dari aku mau nulis artikel tapi aku gatau mau nulis apa topiknya yang bener-bener bisa aku kembangkan karena emang beberapa aku cari dari kolom opini di media online, kalau topic yang interest buat aku yaa gajauh dari drama (walaupun sekarang aku belum ngikutin lagi) dan skincare yang lagi aku ikutin, kepikiran buat nulis topic bangun pagi tapi ternyata konsep nulis artikelnya juga kayaknya aku belum paham.

Kemaren aku ngerjain tugas jurnalisme online tentang menulis artikel, aku tulis tentang berkurban di masa pandemic hasil baca Koran harian republica karena kebetulan aku lagi berlangganan. Aku ambil datanya dan beberapa pemikiran dan aku ganti kata-katanya. Awalnya aku kira yaa artikel itu tersusun rapi layaknya artikel tapi ternyata tetep dikembaliin sama dosen aku yang basicnya redakture salah satu media online.

Sempet down karena ternyata tulisan aku ga diterima padahal mikirnya udah susah jujur, sampe akhirnya aku ga ngerjain lewat deadline tadi malem, tapi kalau emang bisa dikerjain hari ini aku bakal kirim. Aku kesulitan buat mencari topic artikel, awalnya ga ada sama sekali yang aku pikirin bener-bener buntu kaya yang ga punya pengetahuan apa-apa. Sampe meragukan sebenernya aku suka ga sih nulis, kok ngelakuinnya kaya berat? Kalau aku suka kenapa aku ga lancar nulis artikel yang Cuma dibutuhin  minimal 1.000 karakter.

Dengan kondisi ini aku sadar beberapa hal, Karena aku lagi baca buku filosofi teras karya Henry Manampiring yang ‘best seller’ itu, kalau sesuatu yang sudah terjadi akan dihadapkan dengan dua kondisi, sesuatu yang bisa kendalikan dan sesuatu yang tidak bisa kendalikan (sudah terjadi begitu adanya) that’s why jika dihadapkan dengan sesuatu yang mengecewakan, coba fokus ke hal-hal yang masih bisa dikendalikan. Seperti, kondisi tidak diterimanya artikel aku mendapatkan respon dari pak dosen tersebut dengan menyuruhku memperbaiki kembali artikel tersebut. Alih-alih terus-terusan kecewa terhadap ekspektasi yang sebelumnya hadir, mengapa tidak mencoba saja memeprbaiki artikel yang salah itu.

Hal lain adalah, I accept this is my bad when it comes to deadline, pak dosen sudah menugaskan ini jauh-jauh hari sebelum deadline kemarin. Walaupun sudah sepatutnya artikel lebih baik kalau memuat topic yang actual tetapi point plus dari artikel sendiri adalah kita bisa merancangnya agar topiknya awet dan tak lekang oleh masa. Kondisi mengerjakan di tenggat deadline itu membuat segalanya jadi berantakan menurutku. Seperti, tertekan memaksakan mencari topic yang kalau aku fikirkan jauh-jauh hari pasti lebih matang. Atau tidak mempunyai waktu berfikir tentang stuktur kata akibatnya jadi mencontoh struktur opini yang menjadi referensi ku. Memang, kata-katanya tidak sama tapi topic yang dibahas mirip bahkan stukturnya mencontoh banget. Bagaimana dosen tidak kembalikan?

Selain panik karena deadline, menata emosi pun jadi sulit. Kepikiran, punya ekspektasi lebih, ingin cepat selesai, dan kondisi-kondisi menegangkan lainnya. Jadi teringat perkataan salah satu teman yang aku curhatin tentang “bagaimana sih cara mencari ide topic itu?” dengan gambling ia menjawab “alya pasti sering kan coret-coret di notes? Ayo ngaku!” setelah difikir-fikir aku jawab “I do” tapi topiknya sekedar topic ringan hasil pemikiran aku dan ujung-ujungnya ga aku selesaikan karena kurang referensi. I do love to write in my notes that’s why I had a lot of notes on my desk. Dari smp, simple, karena aku suka lihat gimana aku nulis di kertas dan jadi sebuah tulisan yang nantinya bisa aku baca lagi dan geer dikit, I love my hand-writing hihi.

Beberapa hal yang aku temui ingin dijadikan suatu pelajaran. Tapi namanya manusia, will powernya kadang terombang-ambing. Harus sampai bener-bener jera dulu baru mencoba merubah kondisi. Padahal, kalau sekarang sudah sadar harusnya lebih cepat memperbaiki lebih baik bukan? Niat aku menulis tentang inipun karena aku mau mengingat hal yang harusnya tidak aku lakukan dan akhirnya sedikit-sedikit belajar.

 

Comments

Popular Posts